akarta -
Bukan lagi hal mengejutkan ketika sebuah ponsel baru yang masuk ke
pasaran harus melalui tes penyiksaan, seperti yang juga dialami iPhone X
berikut.
Adalah Jerry Rig Everything yang melakukan hal 'sadis'
tersebut. Untuk membuktikan ketahanan bodi kaca di iPhone X, ponsel
anyar Apple ini dibaret, dibakar, hingga dibengkokkan.
Bagaimana
hasilnya, bisa dibilang Apple benar-benar tak main-main memilih
material kaca yang terbenam di iPhone X. Tak mudah meninggalkan bekas
goresan di lapisan kaca pada bagian layar dan bodi belakang ponsel ini.
iPhone
X baru meyisakan goresan di layar dan bodi belakangnya setelah dibaret
dengan ketajaman di level 6 dan 7. Artinya, pengguna iPhone X tak perlu
kuatir ketika harus menempatkan ponselnya dengan anak kunci di satu
wadah yang sama. Seharusnya tak ada goresan yang akan membekas bila
layar iPhone X bersentuhan langsung dengan anak kunci.
Goresan
bukan satu-satunya pengujian yang harus dihadapi iPhone X. Untuk
membuktikan ketahanannya, Jerry juga membakar layar ponsel tersebut.
Dan
menariknya, setelah dipanaskan beberapa saat, tak ada masalah serius
dengan layar iPhone X. Meski sempat menyisakan bekas, namun
berangsur-angsur menghilang setelah beberapa saat.
Terakhir
adalah bend test, atau pengujian dengan cara dibengkokkan paksa. Seperti
diketahui, kasus bend gate sempat heboh di iPhone 6 Plus. Di mana
ponsel Apple tersebut bisa dengan mudah bengkok hanya dengan
menempatkannya di saku belakang celana.
Tapi hal yang sama
dipastikan tak akan ditemui di iPhone X. Pasalnya bukan perkara mudah
untuk membengkokkan ponsel ini meski secara paksa dilakukan. Terbukti
kalau Apple telah belajar banyak sejak kasus bend gate.
Overall,
mengacu pada banderolnya yang terlampau mahal, iPhone X dijawab Apple
dengan sangat baik. Bisa dibilang tingginya harga yang harus dibayar,
sesuai dengan apa yang didapat pengguna.
Penasaran seperti apa video 'penyiksaan' iPhone X, simak berikut.
riyanzhankstmikperingsewu
Minggu, 05 November 2017
Stephen Hawking Cemas Kecerdasan Buatan Punahkan Manusiaakarta - Profesor Stephen Hawking kembali memperingatkan dunia bahwa perkembangan kecerdasan buatan semakin pesat dan nyata, dan akan menyalip kehebatan manusia. Meskipun ia tidak memberikan waktu yang spesifik kapan hal tersebut akan terjadi, namun Stephen meyakini bahwa kecerdasan buatan alias AI atau artificial intelligence akan menggantikan manusia secara seutuhnya. "Saya takut kecerdasan buatan akan menggantikan manusia secara keseluruhan. Mereka layaknya virus komputer yang dapat mengembangkan kemampuan dan mereplikasi diri," ujarnya. Ia menambahkan, bahwa hal tersebut dapat memicu bentuk baru kehidupan yang akan membuat manusia tertinggal. Pernyataan dari Stephen Hawking tersebut diperkuat dengan laporan dari PricewaterhouseCoopers (PwC) bahwa empat dari sepuluh pekerjaan yang ada di dunia sangat riskan tergantikan oleh robot. Selain itu, pada 2030 nanti 38% dari pekerjaan di Amerika Serikat akan hilang digantikan oleh robot dan kecerdasan buatan. Hal tersebut selaras dengan apa yang akan terjadi di Inggris Raya (30%), Jerman (35%), dan Jepang (21%). Analisis lain menyebutkan bahwa 61% pekerjaan dalam jasa layanan finansial sangat berisiko diambil alih robot, seperti detikINET kutip Daily Mail, Senin (6/11/2017). Ini bukan pertama kalinya ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kecerdasan buatan. Pada Oktober lalu, ia mengatakan bahwa teknologi tersebut dapat menimbulkan konflik dengan manusia. "Saya percaya bahwa tidak ada perbedaan antara otak biologis dengan komputer, keduanya dapat mencapai pencapaian yang sama," katanya. Meskipun begitu, ia mengatakan bahwa kecerdasan buatan berpotensi menciptakan keuntungan yang sangat besar. Revolusi teknologi tersebut dapat 'memutar ulang' kerusakan alam yang diciptakan oleh manusia akibat dari industrialisasi Walapun, ia tidak memungkiri bahaya yang tersimpan di dalamnya. "Singkatnya, kesuksekan dalam menciptakan kecerdasan buatan mungkin menjadi pencapaian terbesar dalam sejarah manusia. Namun, hal tersebut juga dapat menjadi pencapaian yang terakhir jika kita tidak dapat mempelajari risiko yang dapat terjadi," pungkasnya. (fyk/rou)
akarta - Profesor Stephen Hawking kembali
memperingatkan dunia bahwa perkembangan kecerdasan buatan semakin pesat
dan nyata, dan akan menyalip kehebatan manusia.
Meskipun ia tidak memberikan waktu yang spesifik kapan hal tersebut akan terjadi, namun Stephen meyakini bahwa kecerdasan buatan alias AI atau artificial intelligence akan menggantikan manusia secara seutuhnya.
"Saya takut kecerdasan buatan akan menggantikan manusia secara keseluruhan. Mereka layaknya virus komputer yang dapat mengembangkan kemampuan dan mereplikasi diri," ujarnya.
Ia menambahkan, bahwa hal tersebut dapat memicu bentuk baru kehidupan yang akan membuat manusia tertinggal.
Pernyataan dari Stephen Hawking tersebut diperkuat dengan laporan dari PricewaterhouseCoopers (PwC) bahwa empat dari sepuluh pekerjaan yang ada di dunia sangat riskan tergantikan oleh robot.
Selain itu, pada 2030 nanti 38% dari pekerjaan di Amerika Serikat akan hilang digantikan oleh robot dan kecerdasan buatan. Hal tersebut selaras dengan apa yang akan terjadi di Inggris Raya (30%), Jerman (35%), dan Jepang (21%).
Analisis lain menyebutkan bahwa 61% pekerjaan dalam jasa layanan finansial sangat berisiko diambil alih robot, seperti detikINET kutip Daily Mail, Senin (6/11/2017).
Ini bukan pertama kalinya ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kecerdasan buatan. Pada Oktober lalu, ia mengatakan bahwa teknologi tersebut dapat menimbulkan konflik dengan manusia.
"Saya percaya bahwa tidak ada perbedaan antara otak biologis dengan komputer, keduanya dapat mencapai pencapaian yang sama," katanya.
Meskipun begitu, ia mengatakan bahwa kecerdasan buatan berpotensi menciptakan keuntungan yang sangat besar.
Revolusi teknologi tersebut dapat 'memutar ulang' kerusakan alam yang diciptakan oleh manusia akibat dari industrialisasi Walapun, ia tidak memungkiri bahaya yang tersimpan di dalamnya.
"Singkatnya, kesuksekan dalam menciptakan kecerdasan buatan mungkin menjadi pencapaian terbesar dalam sejarah manusia. Namun, hal tersebut juga dapat menjadi pencapaian yang terakhir jika kita tidak dapat mempelajari risiko yang dapat terjadi," pungkasnya. (fyk/rou)
Meskipun ia tidak memberikan waktu yang spesifik kapan hal tersebut akan terjadi, namun Stephen meyakini bahwa kecerdasan buatan alias AI atau artificial intelligence akan menggantikan manusia secara seutuhnya.
"Saya takut kecerdasan buatan akan menggantikan manusia secara keseluruhan. Mereka layaknya virus komputer yang dapat mengembangkan kemampuan dan mereplikasi diri," ujarnya.
Pernyataan dari Stephen Hawking tersebut diperkuat dengan laporan dari PricewaterhouseCoopers (PwC) bahwa empat dari sepuluh pekerjaan yang ada di dunia sangat riskan tergantikan oleh robot.
Selain itu, pada 2030 nanti 38% dari pekerjaan di Amerika Serikat akan hilang digantikan oleh robot dan kecerdasan buatan. Hal tersebut selaras dengan apa yang akan terjadi di Inggris Raya (30%), Jerman (35%), dan Jepang (21%).
Analisis lain menyebutkan bahwa 61% pekerjaan dalam jasa layanan finansial sangat berisiko diambil alih robot, seperti detikINET kutip Daily Mail, Senin (6/11/2017).
Ini bukan pertama kalinya ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kecerdasan buatan. Pada Oktober lalu, ia mengatakan bahwa teknologi tersebut dapat menimbulkan konflik dengan manusia.
"Saya percaya bahwa tidak ada perbedaan antara otak biologis dengan komputer, keduanya dapat mencapai pencapaian yang sama," katanya.
Meskipun begitu, ia mengatakan bahwa kecerdasan buatan berpotensi menciptakan keuntungan yang sangat besar.
Revolusi teknologi tersebut dapat 'memutar ulang' kerusakan alam yang diciptakan oleh manusia akibat dari industrialisasi Walapun, ia tidak memungkiri bahaya yang tersimpan di dalamnya.
"Singkatnya, kesuksekan dalam menciptakan kecerdasan buatan mungkin menjadi pencapaian terbesar dalam sejarah manusia. Namun, hal tersebut juga dapat menjadi pencapaian yang terakhir jika kita tidak dapat mempelajari risiko yang dapat terjadi," pungkasnya. (fyk/rou)
Sindiran Pedas Buat Anak Muda yang Antre iPhone X
akarta - Tak sedikit orang nyinyir pada para pembeli
iPhone X, terutama para anak muda milenial yang beberapa rela antre
berhari-hari. Termasuk di Australia.
Hal tersebut terjadi setelah ponsel tersebut resmi dijual di Sydney. Di media sosial Facebook, warganet cukup banyak yang mencibir para pemilik iPhone X, yang seharusnya dapat menggunakan uang sebesar AUD 1.829 (Rp 19 Juta) secara lebih bijak.
"Jika kalian para milenial tidak memiliki rumah, maka kalian tidak seharusnya membeli ponsel seharga AUD 1.800" tulis seorang netizen.
"Mereka akan tinggal di tempat sewaan seumur hidupnya dan terus mengeluh
pada kebijakan pemerintah, tapi paling tidak mereka memiliki ponsel
seharga AUD 2.000," sindir yang lainnya.
Komentar-komentar tersebut bukannya tanpa alasan, mengingat biaya hidup dan harga properti di Sydney terus melonjak. Beberapa netizen lain menulis harga sebuah iPhone X sangatlah tidak sepadan, dibanding dengan kebutuhan-kebutuhan lain.
"Bagaimana bisa seseorang membeli dua iPhone X yang masing-masing harganya AUD 1.800? Jika saya memiliki uang sebanyak itu maka akan saya gunakan untuk membayar pajak"
"Jalani hidup semestinya, bukannya membeli ponsel terbaru"
Postingan-postingan tersebut pun mengundang balasan dari Mazen Kourouche, YouTuber berusia 20 tahun asal Australia. Ia mengaku wajib membeli iPhone X untuk merasakan sensasinya.
"Sensasi membeli iPhone X tiada tara. Saya mencintai iPhone, dan saya senang dengan atmosfir yang diciptakan Apple," tulisnya dalam sebuah postingan Facebook.
Pria yang pertama kali mendapatkan iPhone 8 dan iPhone X di Australia ini menambahkan bahwa ia juga memiliki channel YouTube, jadi akan langsung membuat review terhadap ponsel tersebut. (fyk/fyk)
Hal tersebut terjadi setelah ponsel tersebut resmi dijual di Sydney. Di media sosial Facebook, warganet cukup banyak yang mencibir para pemilik iPhone X, yang seharusnya dapat menggunakan uang sebesar AUD 1.829 (Rp 19 Juta) secara lebih bijak.
"Jika kalian para milenial tidak memiliki rumah, maka kalian tidak seharusnya membeli ponsel seharga AUD 1.800" tulis seorang netizen.
Komentar-komentar tersebut bukannya tanpa alasan, mengingat biaya hidup dan harga properti di Sydney terus melonjak. Beberapa netizen lain menulis harga sebuah iPhone X sangatlah tidak sepadan, dibanding dengan kebutuhan-kebutuhan lain.
"Bagaimana bisa seseorang membeli dua iPhone X yang masing-masing harganya AUD 1.800? Jika saya memiliki uang sebanyak itu maka akan saya gunakan untuk membayar pajak"
"Jalani hidup semestinya, bukannya membeli ponsel terbaru"
Postingan-postingan tersebut pun mengundang balasan dari Mazen Kourouche, YouTuber berusia 20 tahun asal Australia. Ia mengaku wajib membeli iPhone X untuk merasakan sensasinya.
"Sensasi membeli iPhone X tiada tara. Saya mencintai iPhone, dan saya senang dengan atmosfir yang diciptakan Apple," tulisnya dalam sebuah postingan Facebook.
Pria yang pertama kali mendapatkan iPhone 8 dan iPhone X di Australia ini menambahkan bahwa ia juga memiliki channel YouTube, jadi akan langsung membuat review terhadap ponsel tersebut. (fyk/fyk)
Mencari Startup Penerus Go-Jek di Indonesia
akarta -
Sedang berjuang membangun startup? Tidak ada salahnya membuka jalan
dengan mengikuti Amplifive, event pitching startup yang melibatkan para
pakar di bidangnya.
Seperti diketahui, dunia startup di Indonesia semakin bergairah. Didukung oleh populasi besar dan masalah-masalah yang membutuhkan solusi.
Sudah cukup banyak cerita sukses terjadi. Sebut saja Go-Jek, Traveloka, sampai Tokopedia yang awalnya bukan apa-apa, kini menjadi startup berstatus unicorn dengan valuasi setidaknya USD 1 miliar.
Di masa depan, ekonomi digital pun diprediksi menyumbang pendapatan besar bagi Indonesia. Nah, detikINET bekerjasama dengan Digitaraya dan Google for Entrepreneurs menciptakan event bernama Amplifive.
Di ajang ini, lima startup terpilih akan merepresentasikan diri di hadapan lima pemain industri startup berpengalaman dari beragam latar belakang, untuk mendapatkan dukungan dan peluang kolaborasi.
Setelah melakukan pitching, akan ada sesi networking dengan para pelaku ekosistem startup. Untuk tahap awal, ada lima startup terpilih melakukan pitching yaitu Karapan dari Surabaya, Ajarin dari Jakarta, Lindungi Hutan dari Semarang, Sampah Muda dari Semarang dan Triplogic dari Jakarta.
Jangan lewatkan pitching seru yang telah mereka lakukan di hadapan para pakar, yakni Yansen Kamto selaku Chief Executive, KIBAR, Henky Prihatna selaku Indonesia Business Leader Google, Ardhi Suryadhi selaku Wapimred Detikcom, Steven Vanada selaku Vice President, CyberAgents Venture dan seorang Celebrity guest.
Tayangan perdana Amplifive ini bisa disaksikan hari ini, Senin (6/11/2018) di detikINET pada jam 13.00 siang. Oh ya, bagi startup yang ingin mencoba peruntungan di acara ini, bisa mendaftar di sini. Jangan lewatkan!
Seperti diketahui, dunia startup di Indonesia semakin bergairah. Didukung oleh populasi besar dan masalah-masalah yang membutuhkan solusi.
Sudah cukup banyak cerita sukses terjadi. Sebut saja Go-Jek, Traveloka, sampai Tokopedia yang awalnya bukan apa-apa, kini menjadi startup berstatus unicorn dengan valuasi setidaknya USD 1 miliar.
Di ajang ini, lima startup terpilih akan merepresentasikan diri di hadapan lima pemain industri startup berpengalaman dari beragam latar belakang, untuk mendapatkan dukungan dan peluang kolaborasi.
Setelah melakukan pitching, akan ada sesi networking dengan para pelaku ekosistem startup. Untuk tahap awal, ada lima startup terpilih melakukan pitching yaitu Karapan dari Surabaya, Ajarin dari Jakarta, Lindungi Hutan dari Semarang, Sampah Muda dari Semarang dan Triplogic dari Jakarta.
Jangan lewatkan pitching seru yang telah mereka lakukan di hadapan para pakar, yakni Yansen Kamto selaku Chief Executive, KIBAR, Henky Prihatna selaku Indonesia Business Leader Google, Ardhi Suryadhi selaku Wapimred Detikcom, Steven Vanada selaku Vice President, CyberAgents Venture dan seorang Celebrity guest.
Tayangan perdana Amplifive ini bisa disaksikan hari ini, Senin (6/11/2018) di detikINET pada jam 13.00 siang. Oh ya, bagi startup yang ingin mencoba peruntungan di acara ini, bisa mendaftar di sini. Jangan lewatkan!
Dengan Teknologi, Beternak Ikan di Gurun Tidak Jadi Masalah
VIVA – Pertumbuhan penduduk di dunia
berbanding terbalik dengan pertumbuhan pangan dunia. Ketika penduduk
semakin meningkat, maka pangan untuk penduduk semakin berkurang. Sudah
sewajarnya karena setiap manusia membutuhkan makanan untuk hidup.
Salah satu bahan pangan yang menjadi konsumsi hampir seluruh warga dunia adalah ikan. Bahkan di suatu negara, ikan dijadikan sebagai sumber protein utama.
Salah satu bahan pangan yang menjadi konsumsi hampir seluruh warga dunia adalah ikan. Bahkan di suatu negara, ikan dijadikan sebagai sumber protein utama.
India dan AS Tingkatkan Kerja Sama Teknologi Kapal Induk
NEW DELHI - India dan Amerika Serikat sedang membahas
peningkatan kerja sama dalam berbagi teknologi kapal induk. Kementerian
Pertahanan India mengonfirmasi kerja sama kedua negara tersebut.
Para pejabat pertahanan kedua negara telah bertemu dalam forum keempat Joint Working Group on Aircraft Carrier Technology Cooperation (JWGACTC) di New Delhi.
Sesi penutup dari pertemuan Kelompok Kerja Gabungan itu mengeksplorasi cara-cara untuk meningkatkan kerja sama antara kedua negara dalam berbagi teknologi yang berkaitan dengan kapal induk.
Delegasi India dipimpin oleh Wakil Laksamana DM Deshpande selaku Controller Warship Production and Acquisition. Sedangkan pihak AS dipimpin oleh Laksamana Muda Brian Antonio selaku Program Executive Officer Aircraft Carriers.
”Kedua belah pihak mengakui pencapaian yang signifikan dari Kelompok Kerja Gabungan sejauh ini dan membahas rencana kerja sama di masa depan di bawah berbagai aspek teknologi kapal induk seperti optimasi perancangan, filosofi konstruksi, prosedur, dan manajemen proyek,” kata Kementerian Pertahanan India dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari NDTV, Sabtu (4/11/2017).
Menurut kementerian tersebut, pertemuan para pejabat ini menandai penting kerja sama lainnya yang sedang berlangsung antara kedua negara di bidang teknologi kapal induk.
Para pejabat pertahanan kedua negara telah bertemu dalam forum keempat Joint Working Group on Aircraft Carrier Technology Cooperation (JWGACTC) di New Delhi.
Sesi penutup dari pertemuan Kelompok Kerja Gabungan itu mengeksplorasi cara-cara untuk meningkatkan kerja sama antara kedua negara dalam berbagi teknologi yang berkaitan dengan kapal induk.
Delegasi India dipimpin oleh Wakil Laksamana DM Deshpande selaku Controller Warship Production and Acquisition. Sedangkan pihak AS dipimpin oleh Laksamana Muda Brian Antonio selaku Program Executive Officer Aircraft Carriers.
”Kedua belah pihak mengakui pencapaian yang signifikan dari Kelompok Kerja Gabungan sejauh ini dan membahas rencana kerja sama di masa depan di bawah berbagai aspek teknologi kapal induk seperti optimasi perancangan, filosofi konstruksi, prosedur, dan manajemen proyek,” kata Kementerian Pertahanan India dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari NDTV, Sabtu (4/11/2017).
Menurut kementerian tersebut, pertemuan para pejabat ini menandai penting kerja sama lainnya yang sedang berlangsung antara kedua negara di bidang teknologi kapal induk.
85 Persen Pekerjaan Baru Akan Muncul Berkat Teknologi
Jakarta, CNN Indonesia -- Perkembangan
teknologi dipercaya akan menciptakan pekerjaan baru yang belum ada saat
ini. Sebanyak 85 persen pekerjaan baru di 2030 bahkan belum kita kenal.
Hal ini merupakan hasil penelitian Dell bersama Institute for the Future
(IFTF).
Penelitian ini memaparkan bagaimana teknologi mengubah cara hidup dan kerja masyarakat di 2030. Selain menyebabkan hilangnya sejumlah pekerjaan, Dell menyebutkan bahwa teknologi juga bisa membuka lahan pekerjaan baru.
"Diperkirakan 85 persen pekerjaan di 2030 belum tercipta saat ini," jelas Amit Midha, President Commercial Business Dell Asia Pasifik dan Jepang, Kamis (3/11).
Sebagai contoh, pekerjaan media sosial atau pemasaran digital tak pernah dikenal sebelumnya. Tapi saat ini, dua pekerjaan itu menjadi penting dimiliki oleh tiap perusahaan. Berbagai pekerjaan baru lain inilah yang menurut Dell akan bermunculan dimasa mendatang.
Peluang baru
Hal lain terkait hubungan teknologi dengan manusia. Pada 2030, ketergantungan manusia terhadap teknologi akan diyakini berkembang menjadi kerja sama dengan manusia.
Efisiensi tenaga kerja disebut Dell akan membantu keterbatasan manusia. Teknologi menjadi perpanjangan tangan manusia untuk membantu mengelola tugas harian.
Kolaborasi keduanya pun akan mendorong pola pikir kewirausahaan. Perubahan akan sangat cepat, sehingga industri-industri baru akan tercipta dan keterampilan-keterampilan baru pun akan dibutuhkan untuk bertahan hidup.
"Hal ini akan sejalan dengan kemampuan mesin untuk menghasilkan
kecepatan, otomatisasi, efisiensi serta produktivitas. Hal yang
dihasilkan akan memungkinkan peluang-peluang industri dan peran
(pekerjaan) baru," imbuhnya.
Analisa Data
Dell juga menyoroti soal perkembangan AI. AI diramal akan mengurus manusia lewat prediksi dan otomatisasi dalam 13 tahun ke depan.
Teknologi berbasis data dan analisa juga akan mengubah proses menemukan pekerjaan. Pekerjaan tidak lagi terbatas pada tempat, namun lebih merupakan serangkaian tugas.
"Dengan menggunakan teknologi pencocokan (matchmaking) berbasis data, perusahaan dapat menemukan [...] karyawan-karyawan berbakat dari seluruh dunia," lanjut Amit.
Hal tersebut merupakan hasil studi yang meneliti dampak teknologi disruptif seperti kecerdasan buatan (AI), augmented reality dan lainnya pada perusahaan dan tenaga kerja di Asia Pasifik serta Jepang (APJ). (eks)
Penelitian ini memaparkan bagaimana teknologi mengubah cara hidup dan kerja masyarakat di 2030. Selain menyebabkan hilangnya sejumlah pekerjaan, Dell menyebutkan bahwa teknologi juga bisa membuka lahan pekerjaan baru.
"Diperkirakan 85 persen pekerjaan di 2030 belum tercipta saat ini," jelas Amit Midha, President Commercial Business Dell Asia Pasifik dan Jepang, Kamis (3/11).
Sebagai contoh, pekerjaan media sosial atau pemasaran digital tak pernah dikenal sebelumnya. Tapi saat ini, dua pekerjaan itu menjadi penting dimiliki oleh tiap perusahaan. Berbagai pekerjaan baru lain inilah yang menurut Dell akan bermunculan dimasa mendatang.
Peluang baru
Hal lain terkait hubungan teknologi dengan manusia. Pada 2030, ketergantungan manusia terhadap teknologi akan diyakini berkembang menjadi kerja sama dengan manusia.
Efisiensi tenaga kerja disebut Dell akan membantu keterbatasan manusia. Teknologi menjadi perpanjangan tangan manusia untuk membantu mengelola tugas harian.
Kolaborasi keduanya pun akan mendorong pola pikir kewirausahaan. Perubahan akan sangat cepat, sehingga industri-industri baru akan tercipta dan keterampilan-keterampilan baru pun akan dibutuhkan untuk bertahan hidup.
Lihat juga:Tiga Pekerjaan yang Paling Dicari di Indonesia |
Analisa Data
Dell juga menyoroti soal perkembangan AI. AI diramal akan mengurus manusia lewat prediksi dan otomatisasi dalam 13 tahun ke depan.
Teknologi berbasis data dan analisa juga akan mengubah proses menemukan pekerjaan. Pekerjaan tidak lagi terbatas pada tempat, namun lebih merupakan serangkaian tugas.
Hal tersebut merupakan hasil studi yang meneliti dampak teknologi disruptif seperti kecerdasan buatan (AI), augmented reality dan lainnya pada perusahaan dan tenaga kerja di Asia Pasifik serta Jepang (APJ). (eks)
Langganan:
Komentar (Atom)





